Absolut dan Objektif

Tentu kita semua mengetahui bahwa objektivitas adalah komponen yang sangat krusial dalam sebuah pengambilan keputusan. Sebuah keputusan harus dibuat berdasarkan fakta-fakta yang ada, based on facts, bukan berdasarkan kepada perasaan pribadi yang sering kita sebut subjektivitas.

Namun, apakah hal tersebut sudah kita lakukan? Dan apakah sebuah keputusan yang diklaim objektif benar-benar objektif sepenuhnya?

Kita, manusia, tidak dapat memungkiri bahwa subjektivitas selalu ada pada diri kita. Bahkan, subjektivitas itu sendiri adalah anugerah dari-Nya. Apa yang membedakan kita dari mesin dan program? Subjektivitas. Dan subjektivitas berasal dari mana? Perasaan kita, sebuah hal yang benar-benar merupakan gift dari Tuhan untuk umat manusia. Kita mempunyai akal budi, kita mempunyai kehendak bebas, dan kita mempunyai perasaan. Suatu hal absolut bahwa kita adalah mahluk yang subjektif.

Dan, ditengah subjektifnya kita, jadilah subjektivitas diposisikan sebagai culprit apabila keputusan yang kita buat membawa dampak yang negatif. Kita “muliakanlah” objektivitas sebagai komponen yang absolut dan the only one dalam pengambilan keputusan. Apalagi bila subjektivitas sudah menyebabkan terjadinya praktik katabelece.

Dalam post ini, saya akan memulai penjelasan dari dua patah kata: menurut saya. Mungkin banyak yang akan berkata bahwa saya kurang kompeten untuk membahas materi ini. Saya sendiri mengakui ya, tapi saya balik bertanya, siapakah yang kompeten? Kita semua adalah mahluk subjektif. Semua hal dari kita adalah hal yang relatif. Bahkan objektivitas versi manusia itu sendiri adalah relatif adanya, masih jauh dari apa yang absolut di mata-Nya. Dan objektivitas yang relatif itu sendiri masih relatif lagi. It’s a matter of perspective, and a perspective is absolutely relative.

Siapakah yang kompeten? Mereka yang menurut orang banyak (dan banyak itu sendiri relatif) yang relatif mampu berdasarkan perspektif yang relatif. Apakah yang kita sebut dengan objektif? Hal yang objektif adalah hal yang lebih objektif dalam kerelatifan kita.  Tidak ada yang absolut dan tidak ada yang mampu membuat keputusan objektif sepenuhnya kecuali Tuhan kita.

Masih berpikir akan keabsolutan dan keobjektivan kita?

Advertisements
    • masterreinaldo
    • June 21st, 2011

    Karena manusia tidak terbebas dari kelemahan, maka tidak ada yang objektif, begitu kesimpulannya?

    • Bila anda menganggap subjektivitas manusia adalah kelemahan, itu subjektif

        • R. C. Adjiputro
        • June 23rd, 2011

        Saya tidak menganggap begitu, saya hanya menarik kesimpulan dari text diatas.

  1. @Adjiputro: kesimpulan yang anda tarik pun relatif adanya karena dapat berbeda berdasarkan perspektif setiap orang

  1. August 30th, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: