Indonesia dan Korupsi: Memberantas atau Mengurangi Dampak?

Saya rasa, relevan adanya untuk membahas korupsi di Indonesia. Relevan adanya untuk membahas penyebabnya. Membahas pencegahan dini dan pendidikan berkarakter. Membahas penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Namun, apakah relevan adanya untuk membahas hal-hal tersebut, hal-hal klise, dalam dunia perpolitikan Indonesia? Saya rasa jawabannya tidak.

Mengapa tidak? Bukankah korupsi harus diberantas? Bukakah korupsi yang menggerogoti bumi pertiwi (sehingga kita mengenal istilah poli-tikus menggerogoti uang rakyat) harus dimusnahkan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan? Bukankah korupsi sudah menjadi akar dari hampir semua permasalahan konyol Indonesia?

Sekali lagi, saya rasa jawabannya tidak. Korupsi tidak harus diberantas. Wah, Lucas korupsi sehingga korupsi harus dipertahankan! Bila hal itu yang ada dalam benak anda, mari saya meluruskan miskomunikasi ini.

Saya memiliki sebuah analogi. Di suatu sekolah, mencontek menjadi hal yang lumrah, dan, mencontek menjadi jalan yang legal serta prestige untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Mengikutinya, seorang anak mencontek dan menjadi “teladan” atas kelihaiannya mengelabui segenap aparat penegak hukum (baca: guru). Apakah mencontek itu salah? Ya. Apakah anak itu tidak boleh mencontek? Mengapa tidak, lingkungan mengharuskan. Jadi, kita menemui dua hal yang bertolak belakang: tidak boleh mencontek akan tetapi diharuskan lingkungan.

Inilah yang terjadi di Indonesia. Tidak boleh korupsi tapi dipaksa sistem yang berlaku. Bila tidak korupsi, dari mana akan mendapat uang? Gaji? Tunjangan? Hei, mencalonkan diri itu mahal. Mengikuti pemilu itu investasi! Bukan hanya dana kampanye, tapi bagaimana dengan permainan mata bernilai miliaran? Bagaimana dengan balas jasa kepada partai? Bagaimana dengan konsistuen?

Inilah sebuah realita yang harus kita hadapi. Sistem kita sudah rusak. Terjun ke dalam dunia politik berarti berinvestasi, dan untuk mengambil keuntungan dari investasi tersebut korupsi menjadi jalan tunggal. Bahkan mungkin dengan korupsi pun belum balik modal.

Jadi, kembali ke pertanyaan awal. Apakah korupsi harus diberantas? Korupsi tidak dapat diberantas. Korupsi hanya dapat dikurangi dampaknya. Sistem yang harus dibongkar total. Dan, mungkin pembongkaran ini sangat menyakitkan. Rumah yang kayunya dimakan rayap sampai hampir rubuh harus dibongkar ulang, dan bisa saja segelintir kayu-kayu yang masih bagus ikut dimusnahkan. Tapi itulah kenyataan menyakitkan yang harus kita hadapi. Realita yang harus kita akui. Sistem kita sudah rusak, dan mengurangi dampak tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: