Paradoks Toleransi dalam Sosialisasi

Tentu kita semua mengetahui bahwa setiap manusia mencapai kedewasaannya pada saat yang berbeda-beda. Dan, mereka yang lebih lambat sudah jelas akan mengalami kesulitan dalam proses sosialisasi.

Tentu kita semua juga setuju bahwa diperlukan toleransi pada mereka yang perkembangan kedewasaannya lebih lambat. Kita harus saling membantu satu sama lain.

Namun, toleransi itu sendiri adalah paradoks. Apakah benar adanya, dengan toleransi tinggi, mereka yang kesulitan dapat mempercepat proses kedewasaannya? Ataukah sebaliknya, penjerumusan telah dilakukan?

Penjelasan akan paradoks ini sederhana saja. Bagaimanakah seseorang dapat mengetahui kesalahannya apabila semua orang mengatakan bahwa kesalahannya adalah benar adanya? Kekeliruannya adalah biasa semata?

Jadi, untuk membantu mereka yang mengalami perkembangan kedewasaan lebih lambat, toleransi bukanlah jawaban. Apalagi pembiaran. Sebuah penjerumusan dalam kerangka “maksud mulia”. Kita harus “tega” menyatakan ekspresi kita untuk kebaikan mereka sendiri. Apabila mereka berbuat sesuatu yang salah, katakanlah itu salah dengan tujuan akhir yang konstruktif. Jangan ditutup-tutupi menjadi benar. Apabila mereka benar, apresiasilah hal tersebut agar dipertahankan dan bahkan dikembangkan.

Toleransi mungkin manis di awal. Namun, hanya ada dua jawaban atas toleransi dalam sosialisasi. Satu, kita salah mengerti dan kejatuhan kita menjatuhkan orang lain. Kedua, toleransi menjadi “politik pencitraan” untuk eksploitasi.

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: